Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

Tak Perlu Menjelma Mawar (Fiksi)



 Tak Perlu Menjelma Mawar

Judul buku    : Tak Perlu Menjelma Mawar
Penulis            : Sri Elmala Sari, dkk.
Penerbit          : Mafaza Media
Tahun terbit    :2014
Tempat terbit : Jombang
Tebal              : 138 hlm.
Ringkasan cerita       :
Buku antologi ini berisikan kumpulan puisi dan kumpulan sketsa. Puisi-puisi dan sketsa-sketsa yang terdapat dalam buku ini menceritakan bahwa untuk menunjukkan cinta ataupun perasaan kepada orang yang kita cintai, tak harus dilakukan dengan memberikan sekuntum mawar. Hal sekecil apapun tentu dapat mengimplikasikan cinta kita jika dilakukan dengan tulus.
Pesan moral   :
Sesuai dengan temanya, pesan moral dalam antologi ini adalah bahwa cinta tak harus ditunjukkan dengan setangkai mawar.
Komentar       :
Layout dibuat menarik dengan selingan sketsa-sketsa yang ada, sehingga para pembaca tidak merasa bosan.
 







Link terkait: www.indivamediakreasi.com

Wednesday, February 13, 2013

Penebar Semangat

untuk bisa melihat pantai yang indah, 

terkadang kita harus melewati jalan terjal dan berliku

dan memang itulah jalan yang harus kita tempuh

tanpa harus mengeluh

hanya harus melewatinya

dengan sabar dan tawakal

hingga kita sampai pada tujuan akhir

Friday, January 27, 2012

Kebersamaan Malam


Purnama menuntun langkah anak manusia
Menyusuri jalan yang jauh dari rata
Melewati besi-besi jalan kereta
Menapaki tanah-tanah kering
Sungguh, malam ini begitu dingin
Mata pun sebenarnya ingin terpejam
Tapi kebersamaan ini begitu indah
Dan terlalu indah untuk dilewatkan




September, 2006

Monday, January 23, 2012

Puisi (Cahaya Bulan)


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah  lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika ku dekap kau dekap lah lebih mesra lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata, ku dengar degap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta

Haripun menjadi malam, kulihat semua menjadi muram
Wajah wajah yang tak kita kenal berbicara dengan bahasa yang kita tidak mengerti , seperti kabut pagi itu